Berita

Temukan berita terbaru tentang Fakutlas Pertanian

Cuaca Ekstrem Picu Lonjakan Penyakit Cabai, Antraknosa Jadi Ancaman Serius di 2026

Admin
3
Cuaca Ekstrem Picu Lonjakan Penyakit Cabai, Antraknosa Jadi Ancaman Serius di 2026

Yogyakarta - Perubahan iklim yang kian ekstrem sepanjang 2026 membawa dampak nyata bagi budidaya cabai di berbagai sentra produksi. Curah hujan tinggi yang datang tidak menentu, disertai kelembapan udara berlebih, memicu peningkatan serangan penyakit tanaman cabai. Jamur, bakteri, dan virus masih menjadi penyebab utama, dengan tingkat kerusakan yang semakin sulit dikendalikan bila petani tidak menyesuaikan strategi budidayanya.

 

Salah satu penyakit yang paling banyak dikeluhkan petani adalah antraknosa atau patek, penyakit yang menyerang buah cabai dan kerap menyebabkan gagal panen menjelang masa petik. Buah yang terserang menunjukkan bercak hitam kecokelatan berbentuk melingkar, lalu membusuk dan rontok sebelum sempat dipanen.

 

“Penyakit antraknosa atau patek pada tanaman cabai saat ini semakin dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem, terutama fluktuasi curah hujan dan kelembapan tinggi yang tidak menentu,” ujar Arif Umami, dosen Program Studi Agroteknologi UPN “Veteran” Yogyakarta sekaligus Kepala Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, saat di temui di kebun percobaan (28/01).

 

Selain antraknosa, penyakit akibat jamur dan bakteri lain juga masih banyak dijumpai di lahan cabai rakyat. Layu fusarium dan layu vertikilium menyerang jaringan pembuluh tanaman, menyebabkan tanaman layu mendadak meski kondisi tanah tampak basah. Gejala awal biasanya dimulai dari daun bagian bawah yang menguning, sebelum tanaman mati perlahan.

 

Penyakit bercak daun menyebabkan daun rontok prematur sehingga mengganggu proses fotosintesis. Sementara itu, busuk pangkal batang akibat Phytophthora sering muncul pada lahan dengan drainase buruk, terutama saat musim hujan, dan dapat mematikan tanaman dalam waktu singkat.

 

Menurut Umami, lingkungan kebun yang terlalu lembap menjadi faktor pemicu utama berkembangnya patogen tanah. “Drainase yang tidak baik dan sirkulasi udara yang minim membuat jamur berkembang sangat cepat,” jelasnya.

 

Tak hanya jamur dan bakteri, penyakit akibat virus juga menunjukkan tren peningkatan. Virus kuning (Gemini virus) masih menjadi ancaman utama karena ditularkan oleh kutu kebul (Bemisia tabaci). Tanaman yang terserang mengalami daun menguning cerah, mengerut, mengecil, dan pertumbuhan menjadi kerdil.

 

Selain itu, virus mosaik (CMV) dan virus daun keriting juga banyak ditemukan. Penyakit ini ditandai dengan pola belang hijau terang–gelap pada daun, daun melengkung, kaku, dan pertumbuhan tanaman tidak normal. Penyebarannya berkaitan erat dengan meningkatnya populasi hama pengisap seperti thrips dan tungau saat cuaca tidak stabil.

 

Menghadapi kondisi cuaca ekstrem seperti tahun ini, pola pengendalian penyakit cabai perlu dilakukan secara adaptif. Umami menekankan bahwa penyemprotan sebaiknya dilakukan setelah hujan sebagai bentuk pembilasan untuk mengurangi spora jamur yang menempel pada permukaan tanaman.

 

“Pada kondisi sekarang, penyemprotan bisa dilakukan hingga dua kali dalam seminggu, terutama setelah hujan,” ujarnya.
“Setiap habis hujan tanaman sebaiknya disiram atau disemprot ringan untuk pembilasan, supaya spora jamur tidak menetap dan berkembang.”

 

Namun demikian, penyemprotan tidak dianjurkan dilakukan sejak awal masa tanam. Hal ini karena antraknosa umumnya menyerang pada fase generatif atau saat tanaman mulai berbuah.

“Antraknosa itu menyerang buah, jadi di awal masa tanam tidak perlu penyemprotan. Fokus awal justru pada pengelolaan tanah,” jelas Umami.

 

Pada fase awal pertumbuhan, pengendalian diarahkan pada pencegahan penyakit tular tanah dengan memanfaatkan agen hayati.

“Di awal tanam, tanah diberi Trichoderma sebagai agen hayati untuk menekan jamur Fusarium dan mencegah busuk pangkal batang,” tambahnya.

 

Pendekatan ini dinilai lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan karena mampu meningkatkan kesehatan tanah sekaligus menekan ketergantungan terhadap fungisida kimia.

 

Dengan strategi pengendalian terpadu, mulai dari sanitasi lahan, pengaturan drainase, penggunaan agen hayati, hingga penyemprotan adaptif pascahujan. Petani diharapkan mampu menekan risiko serangan penyakit cabai di tengah cuaca ekstrem. Keberhasilan pengendalian ini menjadi kunci menjaga produktivitas dan stabilitas pasokan cabai nasional sepanjang 2026.

#cuaca #ekstrem #picu #lonjakan #penyakit #cabai, #antraknosa #jadi #ancaman #serius #di #2026